Selasa, 24 Maret 2015

Berpikir Deduktif



Metode deduktif
Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.


A.  Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan  berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
B.Silogisme hipotesis
hipotesis penelitan adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian,yang kebenaranya masih harus diuji secara empiris.hipotesis merupakan rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoritis yang diperoleh dari penelaahan kepusakaan.hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenaranya.
Secara teknis,hipotesis dapat didefinisikan sebagai pernyataan mengenaia populasi yang akan diuju kebeneranya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.Secara statistik,hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan parameter yang akan diuji melalui statistik sampel.
Secara implisit,hipotesis itu juga menyatakan prediksi.hipotesis yang menyatakan bahwa ada hubungan yang positif dan sustematis antara nilai ujian masuk dan prestasi belajar mengandung prediksi bahwa mahasiswa-mahasiswa yang mempunyai nilai ujian tinggi juga akan mempunyai indeks prestasi belajar yang tinggi.hipotesis yang menyatakan bahwa metode diskusi lebih baik dari pada metode ceramah secara implisit mengandung prediksi kelas - kelas yang diajarkan terutama dengan metode diskusi akan lebih baik hasil belajarnya daripada kelas-kelas yang diajarkan dengan metode ceramah.
C. Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
  • Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.

Senin, 16 Maret 2015

PENALARAN

Penalaran
Penalaran adalah kegiatan berpikir.Kegiatan berpikir tidan mungkin dapat berlangsung tanpa bahasa.jadi,penalaran senantiasa bersangkut paut dengan bahasa dan pikiran.setiap orang yang menalar selalu menggunakan bahasa,dari  bahasa yang diucapkan dengan mulut,perilaku,maupun  tertulis.dengan jelas bahasa  itu adalah alat berpikir.bahasa adalah alat penalar.
Jika diulas lebih luas ternyata bahasa itu adalah alat yang sangat berguna untuk berpikir.apa bila kita berpikir tentang sesuatu dan hendak kita ingin sampaikan kepada orang lain,maka seseorang tersebut memerlukan suatu bahasa supaya bisa merasakan dan mengerti apa yang kita pikirkan.
Bahasa sebagai alat komunikasi,penalar dan tanda untuk mengungkapkan isi pikiran memiliki keterbatasan.kesulitan itu sering kita alami ketika sedang berpikir.Kita tidak dapat memecahkan persoalan yang sedang kita pikirkan karena tidak dapat menemukan bahasa yang tepat untuk mengungkapkannya.Demikian pula,ketika kita tidak dapat mengungkapkan dengan jelas dan tidak dapat dihami orang lain,penyebanya ialah karena kita tidak menemukan bahasa yang tepat untuk mengungkapkanya.oleh karena itu,bahasa bagi penalar harus tetap terbuka untuk disempurnakan.

proposisi
Proposisi selalu berbentuk kalimat,kalimat yang dibuktikan kebenaranya tanpa diragukan lagi,dan memberikan kesimpulan yang akurat sepagai bukti bahwa kalimat tersebut benar – benar fakta terjadi, tetapi tidak semua kalimat adalah proposisi. Hanya kalimat deklaratif yang dapat mengandung proposisi, karena hanya kaliamat semacam itulah yang dapat dibuktikan atau disangkal kebenarannya. Kalimat-kalimat tanya, perintah, harapan, dan keinginan (desideratif) tidak pernah mengandung proposisi.

Proposisi dapat dipandang dari 4 kriteria, yaitu berdasarkan :
1.Berdasarkan bentuk
proposisi dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
1.       Tunggal adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat atau hanya mengandung satu pernyataan.
Contoh :
• Semua mahasiswa harus berusaha keras.
• Setiap pemuda adalah calon pemimpin bangsa.
2.       Majemuk atau jamak adalah proposisi yang terdiri dari satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Contoh :
• Semua mahasiswa harus belajar dengan keras dan optimis.
• vian bernyanyi dan berjoget.
2.Berdasarkan sifat
proporsis dapat dibagi ke dalam 2 jenis, yaitu:

1.       Kategorial adalah proposisi yang hubungan antara subjek dan predikatnya tidak membutuhkan / memerlukan syarat apapun.
Contoh:
• Semua meja di ruangan ini pasti berwarna coklat.
• Semua daun pasti berwarna hijau.
2.       Kondisional adalah proposisi yang membutuhkan syarat tertentu di dalam hubungan subjek dan predikatnya. Proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu: proposisi kondisional hipotesis dan disjungtif.
Contoh proposisi kondisional:
• jika hari mendung maka akan turun hujan
Contoh proposisi kondisional hipotesis:
• Jika harga BBM turun maka rakyat akan bergembira.
Contoh proposisi kondisional disjungtif:
• rinaldi pemain sinetron atau bintang iklan.

3.Berdasarkan kualitas
proposisi juga dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

1.       Positif(afirmatif) adalah proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antar subjek dan predikat.
Contoh:
• Semua dokter adalah orang pintar.
• Sebagian manusia adalah bersifat sosial.
2.        Negatif adalah proposisi yang menyatakan bahawa antara subjek dan predikat tidak mempunyai hubungan.
Contoh:
• Semua kelinci bukanlah hamster.
• Tidak ada seorang lelaki pun yang mengenakan rok.
4.Berdasarkan kuantitas.
proposisi dapat dibedakan ke dalam 2 jenis, yaitu:

1.       Umum adalah predikat proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh subjek.
Contoh:
• Semua gajah bukanlah kera.
• Tidak seekor gajah pun adalah kera.

2.       Khusus adalah predikat proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian subjeknya.
Contoh:
• Sebagian mahasiswa gemar bernyanyi.
• Tidak semua mahasiswa pandai menari.

Inferensi dan Implikasi
Inferensi berasal dari kata Latin (inferre yang berarti menarik kesimpulan). Implikasi juga berasal dari bahasa Latin yaitu dari kata (implicareyang berarti melibat atau merangkum). Dalam logika, juga dalam bidang ilmiah lainnya, inferensi adalah kesimpulan yang diturunkan dari apa yang ada atau dari fakta-fakta yang ada untuk memberikan penjelasan yang lebih kuat untuk si pendengar/pembaca. Sedangkan implikasi adalah rangkuman, yaitu sesuatu dianggap ada karena sudah dirangkum dalam fakta atau evidensi itu sendiri.
Tiap proposisi dapat mencerminkan dua macam kemungkinan. Pertama, ia merupakan ucapan-ucapan factual sebagai akibat dari pengalaman atau pengetahuan seseorang mengenai sesuatu hal seperti : sejarah,pengalaman sendiri dan lain lain. Kedua, proposisi dapat juga merupakan pendapat, atau kesimpulan seseorang mengenai sesuatu hal seperti berita dari Koran dan majalah.
Untuk membuktikan kebenaran yang terkandung dalam sebuah kesimpulan, harus dicari dan diuji   fakta-fakta yang dijadikan landasan untuk menyusun kesimpulan itu. Fakta adalah apa saja yang ada, baik perbuatan yang dilakukan maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi atau sesuatu yang ada di alam ini. Fakta adalah hal yang ada tanpa memperhatikan atau mempersoalkan bagaimana pendapat orang-orang tentangnya. Sebaliknya pendapat merupakan kesimpulan (inferensi), penilaian, pertimbangan, dan keyakinan seseorang tentang fakta atau fakta-fakta itu. Sebab itu setiap ucapan yang bersifat factual, atau suatu pernyataan yang didasarkan atas fakta, harus selalu dapat dibuktikan sebagai sesuatu yang benar atau yang mustahil. Sebaliknya pendapat atau kesimpulan hanya dapat diterima atau ditolak karena kebenaran atau kemustahilan faktanya dan cara menghubung-hubungkan fakta itu secara absah.
Evidensi
Pada hakikatnya evidensi adalah semua yang ada semua kesaksian,semua informasi,atau autoritas yang dihubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran, fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh dicampur adukan dengan apa yang di kenal sebagai pernyataan atau penegasan. Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adlah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.
Cara mrnguji data :
Data dan informasi yang di gunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap di gunakan sebagai evidensi. Di bawah ini beberapa cara yang dapat di gunakan untuk pengujian tersebut.
1.Observasi
2.Kesaksian
3.Autoritas
Cara menguji fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta,maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilitian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakinan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1.Konsistensi
2.Koherensi
Cara menguji data:
1.       Landasan teori
Terkadang landasan teori yang digunakan telah kadaluarsa,kurang valid,atau kurang tepat.Hal yang demikian kadan penalaran yang dilakukan berbeda dan kurang dalam kebenaranya,dan kurangnya dalam membaca sehingga penalaranya bisa disangkal,bahkan dianggap hanya imajinasi.
2.       Sampel
Tidak  terbuktinya penalaran  itu mungkin terjadi karena sampel yang digunakan tidak  representative,baik karena sampel itu terlau kecil ataupun sampel itu terlalu terbelit – belit bahkan tidak jelas.jadi kita harus memberikan sampel yang jelas,padat,dan keakuratan sampel tersebut.